Jumat, 09 Juni 2017

Delapan Sekolah Bersaing Meraih Penghargaan Adiwiyata Nasional

Delapan Sekolah Bersaing Meraih Penghargaan Adiwiyata Nasional

BANGKALAN – Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati tiap 5 Juni. Momen itu menjadi penyemangat bagi pihak sekolah untuk terus menjaga lingkungan bersih, sehat, dan indah. Apalagi, saat ini ada 8 sekolah di Madura yang berjuang mendapat penghargaan Adiwiyata nasional. Yakni, dari Bangkalan dan Pamekasan. Masing-masing ada 4 sekolah.
Di Madura, ada 8 sekolah yang sudah berstatsus Adiwiyata nasional. Yang tertinggi di Bangkalan, yakni tiga sekolah, sedangkan di Sampang hanya satu sekolah. Di Pamekasan dan Sumenep, masing-masing dua sekolah yang memperoleh penghargaan tersebut. (Perinciannya lihat grafis).
Kepala DLH Bangkalan Ishak Sudibyo menyampaikan, tim penilai Adiwiyata berasal dari DLH, dinas pendidikan (disdik), kementerian agama (kemenag), media massa, perguruan tinggi, atau sekolah Adiwiyata.
”Ada juga LSM pemerhati lingkungan serta bank sampah. Jadi, yang menilai dari berbagai elemen,” katanya Rabu (7/6).
Ada empat poin dalam penilaian sekolah Adiwiyata. Di antaranya, kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, dan kegiatan lingkungan yang bersifat partisipatif. Selain itu, yang menjadi penilaian yaitu pengelolaan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung ramah lingkungan.
Program Adiwiyata dilaksanakan berdasar kesepakatan bersama antara Menteri Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional tanggal 1 Februari 2010 Nomor: 03/MENLH/02/2010 dan Nomor: 01/II/KB/2010 tentang Pendidikan Lingkungan Hidup. Kemudian diperkuat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata.
DLH mendukung program Adiwiyata di Bangkalan. dengan demikian, tujuan merealisasikan lingkungan yang sehat dan bersih bisa diaplikasikan di sekolah-sekolah. ”Sekolah harus bersih dan lingkungannya asri agar siswa nyaman belajar,” tuturnya.
Di tempat terpisah, Sekretaris Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika mengatakan, sejumlah sekolah antusias ikut serta dalam penilaian Adiwiyata. ”Bertahap. Awalnya sedikit sekarang banyak. Sekarang sudah ada yang di tingkat nasional,” paparnya.
Dia menambahkan, sejumlah sekolah juga disiapkan untuk mendapat status Adiwiyata tingkat provinsi dan nasional. Usulan Adiwiyata nasional 2017 di antaranya, SDN Kraton 3, Bangkalan; SDN Bancaran 1, Bangkalan; SMAN 1 Kamal; dan SMKN 2 Bangkalan. Sementara yang diusulkan untuk Adiwiyata provinsi 2017 yakni SMAN 4 Bangkalan dan MIN Kamal.
”Tinggal nanti kami kawal bersama agar Bangkalan bisa kembali mendapat Adiwiyata nasional,” ujarnya.
Bambang mengutarakan, untuk mendapat peringkat Adiwiyata, mulai tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga mandiri, butuh peran semua pihak. Terlebih upaya pihak sekolah agar menanamkan budaya cinta lingkungan.
”Kalau lingkungan sehat, kita juga sehat. Lingkungan yang bersih dan asri itu akan memberikan dampak positif untuk belajar,” terangnya.
Di Pemaekasan, saat ini sudah ada 2 sekolah yang berstatus Adiwiyata nasional. Sementara di tingkat provinsi ada 6 sekolah dan tingkat kabupaten 28 sekolah.
Hal itu disampaikan Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Pamekasan Halifaturrahman. Menurut dia, jumlah tersebut akan terus meningkat. Sebab, tahun ini beberapa sekolah di Pamekasan tengah dipersiapkan untuk dinilai menjadi sekolah Adiwiyata tingkat provinsi dan nasional.
Untuk menopang sekolah Adiwiyata, pihaknya menggelar berbagai pembinaan. Misalnya, workshop aplikasi data macro excel sekolah Adiwiyata dan pendampingan. Selain itu, dilakukan fasilitasi beberapa sarpras sekolah yang sesuai dengan indikator sekolah Adiwiyata.
Pendampingan dilakukan secara intensif dengan turun langsung ke sekolah-sekolah dan membuka ruang konsultasi secara terbuka, baik formal maupun nonformal, bagi sekolah-sekolah yang mengikuti program Adiwiyata. Menurut Halifaturrahman, anggaran untuk sekolah Adiwiyata terbilang minim.
Buktinya, setiap tahun dana yang digelontorkan pemkab hanya sekitar Rp 130 juta. Meski demikian, pihak sekolah tetap antusias mengikuti program sekolah Adiwiyata.
”Terbukti, tahun ini ada 17 sekolah yang ke provinsi dan 4 sekolah ke nasional serta 1 sekolah ke mandiri,” tambahnya.
Di tempat terpisah, Kabid Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan DLH Sampang Abdullah Rasjid mengatakan, penghargaan Adiwiyata berjenjang. Mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. ”Kalau yang sudah masuk level nasional atau mandiri, itu hanya SMAN 1 Torjun, Sampang,” akunya.
DLH secara rutin memberikan pelatihan dan pembinaan ke sekolah-sekolah. Tujuannya, agar siswa semakin cinta dan peduli lingkungan. Sayangnya, dia tidak menyebutkan anggaran untuk program tersebut. ”Semakin baik pengelolaan lingkungannya, level Adiwiyata bisa semakin naik,” jelasnya.
Ada empat item yang menjadi bahan penilaian Adiwiyata. Di antaranya, kebijakan sekolah dalam mengambil langkah tata cara pengelolaan pemasalahan lingkungan. Selanjtnya, bagaimana sekolah memasukkan materi pengelolaan lingkungan hidup ke dalam pembelajaran.
Selain itu, yang menjadi penilaian adalah seberapa banyak sekolah menjalin kemitraan dengan pemkab, swasta, atau perorangan dalam rangka pembelajaran lingkungan. Kelengkapan sarpas pembelajaran lingkungan juga menjadi penilaian Adiwiyata. 
Sumber : http://radarmadura.jawapos.com

BACA JUGA :
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Delapan Sekolah Bersaing Meraih Penghargaan Adiwiyata Nasional

0 komentar:

Posting Komentar