BANGKALAN – Pemkab khususnya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan perlu mengambil langkah antisipasi. Sebab, selama 5 tahun curah hujan cenderung menurun. Akibatnya, struktur tanah basah untuk lahan pertanian bisa mengeras dan kering.
Berdasarkan data dispertapahorbun, jenis iklim pertanian di Bangkalan termasuk tipe D4. Ciri-cirinya, 3–4 bulan basah dan 4–6 bulan kering. Bulan basah, rata-rata curah hujan mencapai 200 milimeter (mm) per bulan. Sementara untuk bulan kering rata-rata curah hujan tidak sampai pada angka 100 mm per bulannya.
Curah hujan di Bangkalan jika dihitung harian, maka pada 2011 Bangkalan diguyur hujan sebanyak 87 hari. Kemudian pada 2012 turun menjadi 81 hari. Pada 2013 menjadi 68 hari dan di 2014 turun menjadi 64 hari. Sementara pada 2015 hujan hanya sebanyak 52,7 hari.
”Memang terus mengalami penurunan. Yang jelas produksi petani masih berlanjut meski intensitas hujan menurun,” kata Kasubbag Program Dispertapahorbun Bangkalan M. Ridhwan Selasa (6/6).
Bagaimana curah hujan di 2016 dan tahun ini? Ridhwan belum bisa memberikan data konkret. Alasannya, masih dilakukan rekap pendataan mengenai data curah hujan.
Meski demikian, dia menduga kemungkinan curah hujan terus menurun pada 2016 dan 2017. Itu bisa dilihat dari struktur tanah keras yang bertambah.
Karena itu, dispertapahorbun terus melakukan berbagai terobosan dan cara untuk menanggulangi kemungkinan terburuk. Misalnya, menambah saluran air untuk menyiasati agar Bangkalan tetap memiliki banyak lahan basah.
”Jadi sudah kondisi alam. Tapi bisa kita cari cara untuk mengatasi hal itu. Petani juga sudah bisa mencari formula sendiri mengatasi masalah pertanian,” jelasnya.
Sumber : http://radarmadura.jawapos.com
BACA JUGA :

0 komentar:
Posting Komentar